Implikasi Pemberian Lubang Resapan Biopori Terhadap Laju Infiltrasi Pada Lahan Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis)

Nurul Syahputri Sulaiman, Devianti Devianti, Syahrul Syahrul

Abstract


Abstrak. Laju infiltrasi dipengaruhi oleh kondisi fisik tanah seperti tekstur dan kandungan bahan organik serta vegetasi yang berada pada permukaan tanah yang dicirikan oleh tipologi perakarannya. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman berakar serabut, dan juga menghasilkan tandan kosong yang dapat digunakan sebagai pupuk organik yang mampu menyerap air dalam jumlah relatif lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implikasi pemberian lubang resapan biopori terhadap laju infiltrasi pada lahan perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis). Penelitian ini dilakukan dengan cara pengamatan dan pengukuran secara langsung laju infiltrasi untuk perlakuan lubang resapan biopori denganTKKS (plot TB) dan tanpa TKKS (plot B) selama 2 minggu. Pengukuran laju infiltrasi menggunakan AWLR (Automatic Water Level Recorder) dan software Global Logger v 1.50. Diameter lubang 6 inci dengan kedalaman tiap lubang yaitu 100 cm. Pengukuran laju infiltrasi pada lubang resapan biopori dilakukan dengan mengisi air pada lubang sampai konstan dengan tinggi muka air 98 cm. Hasil pengukuran menunjukkan terdapat perbedaan laju infiltrasi yang signifikan antara lubang resapan biopori tanpa TKKS dan dengan TKKS. Selama pengukuran bahan organik tanah mengalami peningkatan di lubang dengan TKKS dari sebesar 1,32% menjadi 3,26 %. Laju infiltrasi yang tertinggi pada lubang resapan biopori dengan TKKS besar 1,78 cm/menit dengan kadar air tanah awal 31,47%  serta akumulasi 5,12 cm, sedangkan yang terendah yaitu sebesar 0,21 cm/menit dengan kadar air tanah awal 31,59% serta akumulasi yang diperoleh sebesar 1,18 cm. Hal ini membuktikan terjadi peningkatan laju infiltrasi sebesar 0,93 cm/menit. Hasil laju infiltrasi yang diperoleh yaitu plot TB menghasilkan persamaan laju infiltrasi f = 0,665t-0,024. Sama halnya plot B menghasilkan persamaan laju infiltrasi f = 0,572t-0,0011 dan f = 0,776t-0,016.

Implications Of Granting Biopore Infiltration Hole Against The Rate Of Infiltration In The Oil Palm Plantation(Elaeis guineensis)

Abstract. The rate of infiltration is influenced by soil physical conditions including texture, organic matter and vegetation on the soil surface characterized by its root typology. Palm oil is rooted fiber plant, also produce empty bunches that can be used as an organic fertilizer that can absorb water in relatively high amount. The aim of this study is to discover the implication of given biopore absorption hole on the infiltrasi rate of palm oil (Elaeis guineensis) plantation land.  This study was done by observation and measurement of the infiltration rate directly for the treatment of biopore absorption hole at plot TB and plot B during two weeks period. Measurement of infiltration rate used AWLR (Automatic Water Level Recorder) and software global logger V.1.50. Diameter of hole is 6 inches and the depth of each hole is 100 cm. For measurement of infiltration rate,  biopore absorption hole is filled water until water depth of 98 cm. Measurement result shows that there is a significant difference in infiltration rate between biopore absorption hole without empty bunches and with empty bunches. From the measurement, soil organic matter in the hole with TKKS undergoes enhancement from 1,32% to 3,26%, highest infiltration rate in biopore absorption hole with TKKS is 1,78 cm/minutes with initial soil moisture contents 31,47% and accumulation of 5,12 cm, meanwhile lowest infiltration rate is 0,21 cm/minute with initial soil moisture contents 31,59%  and accumulation of 1,18 cm. The results show that is plot TB produce determination value (R2) 0,998 is f = 0,665t-0,024. Similary, plot B result is f = 0,572t-0,0011 and f = 0,776t-0,016.



Keywords


Laju Infiltrasi; Resapan Biopori; Bahan Organik; Rate of Infiltration, Biopore Absorption; Hole Organic Matte;r

Full Text:

PDF

References


Badan Pusat Statistik. 2015. Kota Subulussalam dalam Angka 2015. https:// subulussalamkota.bps.go.id/index.php/publikasi/37. Diakses tanggal 24 Februari 2017.

Brata. 2008. Lubang Resapan Biopori untuk Mitigasi Banjir, Kekeringan dan Perbaikan. Prosiding Seminar Lubang Biopori (LBR) dapat Mengurangi Bahaya Banjir di Gedung BPPT, Jakarta.

Saragih,J. (2014). Sawit Watch. http://sawitwatch.or.id/2014/04/surat-terbuka-spks-dan-sawit-watch-untuk-uni-eropa/. Diakses tanggal 01 November 2017.

Simbolon, T. M. 2015. Kandungan hara tanah dan tanaman karet menghasilkan terhadap pemberian Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan jumlah lubang biopori. Jurnal Online Agroekoteaknologi. Medan 3(3) : 984 – 991.

Suriadi, A dan Nazam M. 2005. Penilaian Kualitas Tanah Berdasarkan Kandungan Bahan Organik (Kasus di Kabupaten Bima). Balai Pengakajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat. www.ntb.litbang.deptan.go.id/2005/sp/penilaian.doc. Diakses tanggal: 21 Februari 2017.

Vilanda. 2015. Pengkajian kemiringan lereng terhadap laju infiltrasi di sub DAS Tenggarang Kabupaten Bondowoso. Skripsi. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jember, Jember.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 


JIM Agribisnis|JIM Agroteknologi|JIM Peternakan|JIM Teknologi Hasil Pertanian|JIM Teknik Pertanian|
JIM Ilmu Tanah|JIM Proteksi Tanaman|JIM Kehutanan


E-ISSN: 2614-6053 2615-2878 Statistic Indexing | Citation


Alamat Tim Redaksi:
Fakultas Pertanian,Universitas Syiah Kuala
Jl. Tgk. Hasan Krueng Kalee No. 3, Kopelma Darussalam,
Banda Aceh, 23111, Indonesia.
Email:jimfp@unsyiah.ac.id